BAKTERI SAKAZAKII PDF

Terima Kasih telah berkunjung. Sebenarnya apa sih bakteri Enterobacter sakazakii, kok berbahaya bagi manusia khususnya bayi yang prematur? Gara-gara bakteri jahat Enterobacter sakazakii dikenal dengan bakteri sufor-susu formula , Majelis Kasasi Mahkamah Agung memerintahkan tiga lembaga untuk mengumumkan susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi oleh bakteri Enterobacter Sakazakii. Hal ini menjawab gugatan ayah dua anak, David ML Tobing. Majelis hakim menolak kasasi yang diajukan ketiga lembaga.

Author:Zulull Kigalar
Country:Dominican Republic
Language:English (Spanish)
Genre:Finance
Published (Last):28 November 2010
Pages:221
PDF File Size:8.97 Mb
ePub File Size:4.13 Mb
ISBN:362-7-63489-472-6
Downloads:62210
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Jull



Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor IPB mengenai adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Tetapi ternyata E Sakazakii meskipun berbahaya tetapi aman untuk bayi sehat. Semua merek susu tidak terkecuali saat ini tetap beresioko terkontaminasi susu berbakteri termasuk Sakazakii.

Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor IPB mengenai adanya Enterobacter sakazakii Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Tim Institut Pertanian Bogor yang diketuai Dr. Tetapi kasus tersebut baru diramaikan tahun dan saat ini diributkan lagi karena adanya keputusan MA yang menguangatkan pengadilan negeri untuk memerintahkan IPB, Menkes dan BPOM mengumumkan susu berbakteri tersebut.

Benarkah temuan yang dilakukan peneliti IPB tersebut? Kalau benar, berbahayakah Enterobacter Sakazakii tersebut pada bayi atau anak?

Bagaiamana hal itu bisa terjadi? Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.

Selain E. Enterobacter sakazakii Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform kokoid , dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun E. Pada tahun , bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii.

Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. Organisma ini dikenal sebagai "yellow pigmented Enterobacter cloacae". Pada tahun , bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternative dengan temuan genus baru yaotu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini.

Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya.

Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demnkian banyak susu terkontaminasi tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa Negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi.

Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9. Menurut Badan Kesehatan Dunia, kejadian bayi terinfeksi bakteri ini cukup jarang terjadi. Review penelitian yang telah dilakukan WHO terhadap berbagai laporan infeksi E.

Enam di antaranya adalah usia 6—11 bulan dan 2 kasus usia tahun. Dari semua jumlah tersebut dilaporkan 27 kasus meninggal dunia.. Karena kasusnya sangat jarang maka Organisasi Kesehatan Dunia WHO belum mengharuskan negara-negara anggota WHO melakukan pemeriksaan rutin terhadap bakteri Enterobacter sakazakii Sejauh ini kasus infeksi Sakazakii di Indonesia, belum pernah dilaporkan.

Meski beberapa laporan media masa atau beberapa kasus terjadi tuntutan orangtua karena anaknya dicurigai terinfeksi, tetapi ternyata dalam pemeriksaan medis lengkap tidak terbukti. Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis infeksi selaput otak pada bayi , hidrosefalus kepala besar karena cairan otak berlebihan , sepsis infeksi berat , and necrotizing enterocolitis kerusakan berat saluran cerna.

Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Laporan mengenai infeksi E. Kelompok bayi yang memiliki resiko tertinggi terinfeksi E. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun malas minum, tidak menangis , mendadak biru, sesak hingga kejang.

Bayi prematur, berat badan lahir rendah kurang dari 2. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis infeksi tulang pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. Proses pencemaran Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya.

Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu milking machine , sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara. Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan milking , penanganan handling , penyimpanan storage , dan aktivitas pra-pengolahan pre-processing lainnya.

Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.

Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu.

Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup. Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu.

Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi.

Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banayak dan relative mahal harganya. Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajianh yang baik dan benar. Diantaranya dalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar.

Meminimalkan "hang time" atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Tetapi apabila susu tersebut telah dimunim sebaiknya bila lewat 2 jam dibuang. Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum.

Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.

Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan.

Sampai saat ini hanya beberapa negara yang menlaporkan bahaya susu berbakteri tersebut tetapi sangat amat jarang Susu bayi yang terkontaminasi bakteri dan penyebab infeksi Bakteri kontaminasi.

INTERMEDIATE PUBLIC ECONOMICS JEAN HINDRIKS PDF

Enterobakter Sakazakii, Bakteri Pencemar Susu yang Dihebohkan

Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor IPB mengenai adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Tetapi ternyata E Sakazakii meskipun berbahaya tetapi aman untuk bayi sehat. Semua merek susu tidak terkecuali saat ini tetap beresioko terkontaminasi susu berbakteri termasuk Sakazakii. Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor IPB mengenai adanya Enterobacter sakazakii Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Tim Institut Pertanian Bogor yang diketuai Dr.

DO BIEGU GOTOWI START SPSS PDF

.

FLEXBAR EXERCISES PDF

.

HENRYK TURKANIK PDF

.

Related Articles