AQIDAH ISLAM SAYYID SADIQ PDF

Dan dari dasar-dasar ini keluarlah cabang-cabangnya. Pengertian Keimanan Atau Aqidah itu tersusun atas 6 perkara yaitu 1. Kesatuan Aqidah : Aqidah merupakan kesatuan yang tidak akan berubah-ubah karena pergantian zaman atau tempat, tidak pula berganti-ganti karena perbedaan golongan atau masyarakat. Alloh berfirman dalam syuarat As Syura ayat

Author:Nikoran Yolar
Country:Malta
Language:English (Spanish)
Genre:History
Published (Last):2 April 2015
Pages:68
PDF File Size:14.21 Mb
ePub File Size:15.76 Mb
ISBN:273-3-83562-873-9
Downloads:60595
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Shakanos



Dan dari dasar-dasar ini keluarlah cabang-cabangnya. Pengertian Keimanan Atau Aqidah itu tersusun atas 6 perkara yaitu 1. Kesatuan Aqidah : Aqidah merupakan kesatuan yang tidak akan berubah-ubah karena pergantian zaman atau tempat, tidak pula berganti-ganti karena perbedaan golongan atau masyarakat. Alloh berfirman dalam syuarat As Syura ayat Aqidah merupak ruh bagi setiap orang, dengan berpegang teguh padanya itu ia akan hidup dalam keadaan yang baik dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya akan matilah semangat kerohanian manusia.

Menggunakan akal pikiran untuk memikirkan dan memperhatikan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Sesungguhnya tiap organ tubuh mempunyai tugas, sedangkan tugas akal adalah merenungkan, memperhatikan dan memikirkan. Jika potensi ini tidak difungsikan maka hilanglah kerja akal dan tidak berfungsi pula tugasnya.

Islam menghendaki agar akal bangkit melepaskan diri dari belenggunya dan bangun dari tidurnya. Taqlid mengikuti orang lain tanpa mengetahui alasan dan tujuannya menjadi penghalang bagi kemerdekaan akal dan pengekang akal untuk berpikir. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang bersikap objektif terhadap berbagai fakta dan dapat membedakan antara yang satu dengan yang lain, sesudah diteliti, diperiksa, dan dicermati lalu mereka mengambil yang terbaik dan meninggalkan yang lain.

Allah mencela orang-orang yang bertaqlid yang tidak mau berpikir kecuali mengikuti pikiran orang lain. Ketika Islam mengajak manusia untuk berpikir, sesungguhnya apa yang dikehendakinya adalah berpikir dalam batas kemampuandan jangkauan akal. Dengan Mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.

Sebab Dzat tuhan memang tidak dapat dijangkau oleh akal, dan sesungguhnya meskipun akal manusia itu cerdas dan kemampuan untuk mengetahui sesuatu telah mencapai puncaknya namun ia sangat terbatas dalam suatu batas tertentu dan sangat lemah untuk mengetahui hakikat berbagai hal atau benda yang bahkan dapat dilihatnya dalam sehari-hari.

Sebagai contoh bahwa manusia sampai saat inipun belum dapat mengetahui secara benar tentang hakikat jiwa itu sendiri padahal jiwa itu melekat pada diri manusia itu sendiri. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sesungguhnya Dzat Alloh masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat diliputi oleh pemikiran-pemikiran. Jadi kalau akal pikiran tidak dapat dari pada jiwa, tidak berarti bahwa jiea itu tidak ada. Begitu juga akal pikiran tidak dapat menjelaskan hakikat cahaya, tidak berarti bahwa cahaya itu tidak ada, jelas sekali bahwa cahayaitu ada dan merta keseluruh alam.

Demikian pula halnya dengan Dzat ketuhanan Illahiyah , jikaa manusia belum mencapai hakikaatnya, maka tidaklah ini berarti bahwa Dzat ketuhanan Illahiyah itu tidak ada, tetapai Dzat Ketuhanan Illahiyah itu ada dengan sekokoh-kokoh penetapan sebagai sesuatu yang wajib ada.

Hal in dijelaskan dalam Q. S Al-Fushshilat ayat Fitrah Sebagai Bukti Adanya Alloh Alam semesta serta segala sesuatu yang ada di dalamnya yang tersusun rapi dan kokoh bukan hanya itu saja yang dapat dijadikan bukti akan adanya Tuhan yang menciptakan Langit dan Bumi ini, tetapi masih ada saksi lain lagi yang dapat digunakan untuk itu yaitu berupa perasaan-perasaan yang tertanam dalam jiwa setiap insan yang merasakan akan adanya Alloh SWT.

Perasaan ini merpakan pembawaaan sejak manusia dilahirkan dan oleh sebab itu disebut sebgai fitrah. Perasaan sejatinya tertanam di dalam jiwa setiap manusia. Dan di dalam perasaan itu pula setiap manusia akan meyakini adanya Tuhan yang Maha Suci. Namun kadang-kadang perasaan ini tertutup dan tenggelam oleh suatu hal dan tidak akan bangkit kembari dari kelalaiannya kecuali jika ada pemicu yang menyadarkannya semisal kecacatan, penyakit yang dideritanya, bahaya yang mengepung dirinya, ataupun ketika ada ancaman-ancama suatu hal.

Pengokohan Ketuhanan Pengalaman spiritual juga menjadi bukti akan eksistensi sang Pencipta yang Maha Kuasa. Diantara bukti-bukti adanya Tuhan adalah bahwa orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah lebih tinggi ilmunya, lebih banyak adabnya, lebih suci jiwanya, lebih bersih hatinya, lebih banyak pengorbanannya, lebih besar kepeduliannya terhadap kepentingan orang lain dan lebih banyak manfaatnya untuk umat manusia.

Hal apa yang menyebabkan kecenderungan tersebut. Perhatikan dengan orang yang tidak beriman. Mereka sangat pekat kebodohannya, keras wataknya, kotor jiwanya, gelap hatinya, rusak akhlaknya dan menjadi seperti binatang dalam berbagai tuntutan maupun kebutuhan-kebutuhannya.

Di balik itu semua pasti terdapat suatu rahasia, dan perlu diyakini bahwa orang yang beriman selalu mendapat dukungan dari Allah. Tidak ada satu buktipun yang mengingkari tentang adanya eksistensi Allah. Karena memang sebenarnya akal yang mau berfikir keras tidak akan menerima ketiadaan dari Allah. Meskipun ilmu pengetahuan sudah mencapai puncaknya, namun hal tersebut tidaklah dapat dijadikan dasar untuk mengingkari Allah.

Bahkan seorang ilmuwan yang sejati akan menjadi seorang yang paling kuat imannya kepada Allah. Sifat-sifat yang menjadi milik Alloh SWT. Itu diantaranya ada yang disebut dengan sifat Salbiah dan diantaranya lagi disebut dengan sifat tsubutiah. Allah adalah dzat yang Maha Akhir. Artinya bahwa Allah itu dzatnya tiada akhir, kekal tanpa batas, dan tanpa berkesudahan. Dia itu Azali Maha dahulu dan abadi, tidak didahului oleh siapapun.

Segala sesuatu yang terlintas dibenak anda maka Dia tidaklah seperti itu. Manusia diciptakan dalam keadaan memerlukan pertolongan orang lain, sedangkan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Manusia beranak dan diperanakkan, sedangkan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Manusia pelupa, sedangkan Allah tidak pernah keliru dan tidak pula lupa. Manusia serba berkekurangan sedangkan Allah Maha Sempurna secara mutlak. Allah bebas berkehendak menjadikannya tinggi atau pendek, baik atau buruk, berilmu atau bodoh, dll.

Andaikata Dia tidak hidup maka sifat-sifat tersebut tidak aka nada pada-Nya. Allah telah menetapkan sifat ini kepada diri-Nya sendiri. Sebagaimana Dia mampu mendegar segala sesuatu, Dia-pun Maha Melihat, yakni melihat segala sesuatu dengan penglihatan menyeluruh mencakup segala yang ada.

Penglihatan Allah tidaklah menggunakan mata seperti cara melihat makhluknya. Alloh yang membentuk makhluk ini dan juga mengaruniakan rizki pada mereka. Sifat-sifat Alloh Sebagai Tiang Petunjuk Jalan Sesungguhnya kita wajib berjalan mengikuti petunuk sifat-sifat Allah itu, menggunakannya sebagai cahaya penerang jalan, menjadikan sebagai contoh tauladan teritinggi, dan mencapai puncak ketinggian jiwa dan peningkatan ruhani yang sempurna.

Ini juga merupakan contoh yang sangat tinggi, yang mengharuskan umat manusia membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan pula. Sebagaimana seorang pemimpin yang penyayang wajib bersikap seperti itu terhadap yang dipimpinnya.

Keempat sifat-sifat Allah tertinggi yang palinng utama, serta keteladanan-Nya yng sangat tinggi. Apa saja pelajaran yang dapat diambil dari sifat-sifat ini juga berlaku untuk sifat-sifat yang lain. Dari keempat sifat Allah ini dapat diambil pelajaran untuk dijadikan tauladan. Demikian pula halnya dari sifat yang lain. Hal ini dikarenakan makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia, dan sesuatu yang ada di dalam diri manusia yang paling mulia adalah hatinya, sedangkan sesuatu yang ada di dalam hati yang paling mulia adalah keimanan.

Diantara manifestasi iman adalah ahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai oleh orang yang beriman dari pada apapun juga, dan hal itu tampak dalam ucapan, perbuatan dan perilakunya. Jika di sana masih ada sesuatu yang lebih dicintainya dari pada Allah dan Rasul-Nya berarti imannanya tidak murni lagi, dan akidahnya tergoncang. Allah dan Rasul-Nyalebih dicintai dari ada selain keduanya.

Ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam neraka. Pengaruh dan dampak iman akan tampak dengan jelas dalam rasa takut kepada Allah. Manifestasi keimanan yang paling besar adalah berpegang teguh kepada wahyu Allah. Iman dapat menumbuhkan hubungan yang beraneka macam.

Ia dapat mengikat hubungan antara orang-orang beriman dn Allah, dengan ikatan kasih saying dan cinta. Iman juga dapat mempererat hubungan antar sesame kaum mukminin atas dasar kasih sayang.

Buah keimanan dapat disimpulkan sebagai berikut : Kemerdekaan jiwa dari kekuasaan orang lain. Iman dapat membangkitkan keberanian di dalam jiwa dan keinginan untuk terus maju, menganggap enteng kematiandan menggandrungi mati syahid demi membela kebenaran.

Keimananmenetapkan keyakinan bahwa Allah-lah yang Maha Pemberi rezeki, dan bahwasanya rezeki tidak dapat dipercepat karena kerakusan orang yang rakus, dan tidak pula dapat ditolak oleh kebencian orang yang benci. Rasa tenang dan tentram. Keimanan dapat meningkatkan kekuatan maknawiyah manusia dan menghubungkan dirinya dengan contoh taulan tertinggi. Kehidupan yang baik. Dia mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kehendakNya sendiri.

Alloh berfirman dalam Q. Surat Yasiin ayat Kita wajib beriman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan sebagian dari kepercayaan atau aqidah yang harus ditanamkan dengan sebenar-benarnya didalam hati setiap muslim. Dalam hal takdir tidak ada pengertian paksaan. Takdir itu sama sekali tidak boleh dianggap sebagai jalan untuk bertawakkal yang tidak sewajarnya, tidak boleh pula dijadikan sebab untuk melakukan kemaksiatan, bahkan tidak boleh diartikan sebagai suatu paksaan Tuhan kepada seseorang hambaNya, tetapi sebaliknya yaitu bahwa takdir haruslah dianggap sebagai jalan untuk mentahkikkan tujuan-tujuan atau cita-cita yang besar dari sekian banyak amal perbuatan yang besar pula.

Adapun hikmah beriman kepada takdir yaitu memberikan pelajaran kepada manusia bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini hanya akan berjalan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah digarisakan oleh Dzat yang maha tinggi. Oleh sebab itu, jika ia tertimpa musibah ia tidak akan menyesal, juga ketika tertimpa pertolongan dan keuntungan dia tidak bergembira sehingga lupa daratan.

Yang mengetahui perihal keadaan mereka dan hakikat yang sebenarnya hanyala Alloh SWT. Malaikat itu disucikan dari kesyahwatan-kesyahwatan hayawaniah, terhindar sama sekali dari keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan salah. Malaikat diciptakan dari cahaya. Keutamaan Manusia Melebihi Malaikat. Manusia dimuliakan oleh Alloh SWT dengan mengaruniakan ilmu pengetahuan yang tidak diberikan kepada malaikat. Hal ini dijelaskan dalam Q. Tabiat Malaikt adalah secara sempurna berbakti kepada Alloh, tunduk dan patuh pada kekuasaan dan keagunganNya, melaksanakan seua perintahnya dan mereka ikut mengatur hal-ihwal alam emsta ini, dengan mengikuti kehendak dan iradah Alloh SWT.

Karya Malaikat dalam alam ruh yaitu : 1. Memberi salam kepada para ahli surga, sebagiaman firman Alloh dalam surat aR-Rad ayat Menyiksa para ahli neraka, sebagiaman firman Alloh dalam surat at-Tahrim ayat 6 dan al-Muddatsir ayat Karya Malaikat dalam alam Dunia dan yang berkaitan dengan Manusia 1.

Menggitkan kekuatan ruhani yang ada dalam diri manusia dengan mengilhamkan kebaikna dan kebenaran.

LIVRO DESENHO DE MODA BINA ABLING PDF

AQIDAH ISLAM SAYYID SABIQ PDF

Jihad[ edit ] Jihad to struggle and literally means to endeavor, strive, labor to apply oneself, to concentrate, to work hard, to accomplish. It could be used to refer to those who physically, mentally or economically serve in the way of God. Main article: Islamic eschatology Eschatology is literally understood as the last things or ultimate things and in Muslim theology, eschatology refers to the end of this world and what will happen in the next world or hereafter. Eschatology covers the death of human beings, their souls after their bodily death, the total destruction of this world, the resurrection of human souls, the Last Judgment of human deeds by God after the resurrection, and the rewards and punishments for the believers and non-believers respectively. The places for the believers in the hereafter are known as Paradise and for the non-believers as Hell. The contents of Muslim theology can be divided into theology proper such as theodicy , eschatology , anthropology , apophatic theology , and comparative religion.

BENTENG DIGITAL DIGITAL FORTRESS PDF

Ja'far al-Sadiq

Syarifudin Mustafa Aqidah Islamiyah Prof. Sayyid Sabiq Pendahuluan Perilaku manusia dan tindakanya merupakan salah satu fenomena yang menggambarkan aqidah dan keyakinanya. Apabila aqidahnya baik dan lurus, maka baik pula perilakunya. Apabila aqidahnya rusak maka rusak pulalah perilakunya. Oleh karena itu aqidah tauhid dan keimanan merupakan suatu keharusan bagi manusia yang tidak bisa diabaikan, agar ia dapat menyempurnakan kepribadiannya dan dapat mewujudkan nilai kemanusiaannya. Dengan aqidah ini ia akan hidup dengan baik. Bila aqidah hilang maka ruhaninya mengalami kematian.

FREE BANGLA BHUTER GOLPO PDF

AQIDAH ISLAM SAYYID SADIQ PDF

His mother, Farwah bint al-Qasim , was a great-granddaughter of Abu Bakr. He also noted the respect that the famous jurists of Medina held toward Zayn al-Abedin in spite of his few followers. During this period, Umayyad power was at its climax, and the childhood of al-Sadiq was coincided with the growing interest of the people of Medina in prophetic science and interpretations of the Quran. The doctrine of Nass or "divinely inspired designation of each imam by the previous imam", therefore, was completed by al-Sadiq. He had said that even though he, as the designated Imam, was the true leader of the Ummah , he would not press his claim to the caliphate.

Related Articles